TASHARA TARA ISJULIANA (epilog)

TASHARA TARA ISJULIANA eps 7: epilog

 

Banjir melanda kota kami. Bangun tidur, aku tidak sempat untuk mengganti baju, sarapan, atau ke kamar mandi sekalipun. Ibuku di depan rumah, panic mencariku. Aku panik dan langsung melompati jendela kamar di rumahku. Hujan deras. Ibu menatap lamat-lamat diriku yang masih tidak apa.

Ibu mengusap mukanya. “ana, bagaimana ini? Apa yang bisa kita lakukan?”

“ana juga ga-“

“hahahaha! Ana, bagaimana rencanamu? Lancar?” Yasmin mengagetkan.

Tubuhnya terlihat lebih dewasa. Badannya menggunakan kostum nenek sihir.

“haha! Apa-apaan kamu? Mau jadi nenek sihir? Menghukumku? Apakah aku bermimpi? Hahaha!” aku terbahak, sebab kekonyolan Yasmin.

Gempa di bawah banjir yang tingginya sudah 10 senti, menggetarkan wilayah rumahku. Rumah retak disebabkan oleh gempa berskala 5 richter. Tsunami menimpal. Tubuhku diselimuti ombak. Mataku tertutup. Ibu terus memanggil-manggil namaku, tubuhku pun basah setengah badan.

“ooh, begitu ceritanya,” baru kuceritakan mimpiku yang barusan tadi kepada ibu.

“iya, bu. Ana jadi menyesal setelah membuat rencana buruk kepada Yasmin. Ana harus minta maaf. Seburuk apapun teman dari mata kita, dia yang akan membawa keberuntungan nanti,” sambil menyeka air mata. Ibu mengusap-usap punggung badanku.

“ana berangkat dulu, ya, bu!” ibu mengangguk.

 

Sekoalah ramai oleh anak-anak. Di antara keramaian itu, pasti sebagiannya ada yang tidak asing.

“guys, Yasmin adalah teman kita semua. Apa yang aku pikirkan ini buruk. Dengan damai, aku ingin meminta maaf pada Yasmin! Yuk!” semua mengangguk, setuju.

Kami datang di hadapan Yasmin, meminta maaf. Dia menjawab, bilang dia sudah tau dan memaafkan kami.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *