Perkenalan pertama dengan Jurnalistik

Foto pudar ini memutar lagi memoriku kala itu….. 21 tahun lalu….
Saat masih berseragam putih biru. Diriku yang masih pemalu tiba² direkom pengasuh pesantren mengikuti sebuah pelatihan di Bogor,Jabar. Hanya karena ayahku pernah aktif sebagai wartawan. PELATIHAN JURNALISTIK Pondok Pesantren Putri Se Indonesia. Jurnalistik ?? Yaa….Arti jurnalistik aja aku belum tahu maknanya.

Kukabarkan rekomendasi ini pada ayah (saat itu masih ada). Dan ayah mendukung penuh diriku untuk ikut pelatihan itu. Yaa…ayah selalu menjadi suporter pertama semua kegiatan baruku. Bahkan saat ibu kuatir dg luka di kakiku sehingga tak setuju aku ikut lomba baris berbaris (kelas 5 MI), ayah tetap optimis kakiku pasti kuat untuk berjalan sejauh ±5km.

Jujur saat itu aku buta tentang jurnalistik dan segala tetek bengeknya. Apalagi syarat mengikuti pelatihan itu harus membuat 1 prosa, 3 puisi dan 1 artikel ilmiah. Rasanya pingin mundur teratur aja. Tapi ayah tetap memberiku semangat dan memberi solusi atas semua syarat itu.

Tanpa memaksa, ayah menunjukkan sedikit karya tulisnya yang pernah dimuat di beberapa koran dan majalah. Semuanya dikliping dan dijilid dengan rapi. Disini baru kutahu…ternyata ayahku jago menulis puisi,membuat cerpen dan menulis artikel. Ayah yang kukenal pendiam, ternyata sangat lihai mengolah kata. Puisinya sangat mendayu merayu, cerpennya sangat hidup. Walaupun tertulis dalam kertas lusuh dengan ejaan lama tapi aku menikmati semua karyanya.

Prosa masih bisa kubuat sendiri dengan modal awal hobi menulis diary sejak MI. Artikel juga aku paksakan tulis juga dengan gaya bahasa ala anak umur 15th. Puisi ?. Terpaksa aku comot satu puisi ayah dengan judul “kini kau terbaring, sayang”. Dua lagi aku karang² semau gue 😂.

Ya…akhirnya di Tahun 1997 itu pertama kalinya aku pergi jauh ke Bogor tanpa kawalan ortu hanya ditemani @ikaanggraeni (MTsN) dan dikawal mbak @ismimasitahdiarahma (Undar).

Banyak pengalaman kudapat selama ±3-4 hr itu. Di situ juga aku mengenal dan bertemu langsung dengan sastrawan Taufiq Ismail dan Goenawan Muhammad. Tapi pengalaman tak terlupakan itu saat puisiku terpilih menjadi salah satu puisi terbaik diantara ±60 peserta se Indonesia. Yaa…Puisi ayah yang aku modif sedikit berhasil nampang di kolom Kaki Langit di Tabloid Horison (kalo tidak salah). Dan aku mendapat “honor” lima belas ribu rupiah saat itu. Saat materi penulisan Straight News juga begitu, lead berita yang kubuat juga termasuk salah satu terbaik. Tapi saat aku harus maju berperan sebagai reporter untuk melaporkan berita yang aku tulis tadi, aku cuma diam di tempat, berpura-pura menjadi patung…hahaha
#memory1997 #ceritaremajaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *