Dar el-Ifta Mesir tentang Perayaan Syam el Nasim

Sebelumnya, kepada teman-teman yang sedang berada di Mesir, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Syam el-Nasim, Kullu aam wa Antum bikheir…..

Pada tanggal 17 April 2017 yang lalu, saya nulis tentang perayaan Syam el Nasim di Mesir, sekilas tentang sejarah dan perjalanan adat warga Mesir di dalam menyambut tibanya musim Semi dari zaman Fir`aun hingga era modern ini. Di tahun 2017 tersebut perayaan Syam el Nasim jatuh pada tanggal 17 April dan tahun 2018 ini jatuh pada tanggal 9 April. Kenapa perayaan Syam el-Nasim dari satu tahun ke tahun lain tanggalnya tidak sama?, ceritanya agak panjang, bisa dilihat kembali di https://beitna.net/2017/04/17/selamat-merayakan-syam-el-nasim/

Kali ini saya ajak pembaca mengintip sedikit tentang pandangan Lembaga Fatwa Mesir (Dar el-Ifta el-Masriyah) tentang Syam el Nasim dan hukum merayakannya. Saya tertarik dengan tema hukum, karena belakangan ini di Negara kita sedang marak Ghirah ke-Islaman yang antara lain ditandai dengan banyaknya pertanyaan tentang hukum setiap kejadian, seperti hukum merayakan hari Ibu, merayakan hari ulang tahun dan lainnya.

Di Mesir, Dar el Ifta sudah mengantisipasi dengan pertanyaan hukum merayakan Sham el Nasim, karena even menyambut musim semi ini dirayakan oleh semua kalangan di Mesir dan dijadikan hari libur secara nasional.

Bagi Dar el-Ifta, Sham el-Nasim adalah sebuah adat dan even social yang tidak mengandung unsur ritual keagamaan yang bertentangan dengan Syariah Islam. Syam el-Nasim juga tidak terikat dengan suatu aqidah yang melanggar prinsip ajaran Islam. Pada hari Syam el-Nasim ini masyarakat Mesir mengadakan pesta merayakan masukknya musim Semi dengan cara-cara refreshing, bersilaturrahmi, mengunjungi taman-taman indah juga menghias atau mewarnai telor, makan ikan ringga atau ikan harring yang kesemuanya adalah perilaku mubah tidak dilarang oleh agama.

Bahkan di antara adat istiadat tersebut ada yang merupakan perintah agama dan berpahala seperti silaturahmi misalnya, sementara lainnya bisa disebut hal-hal mubah yang jika dilakukan dengan niat baik akan mendapat pahala juga, seperti menikmati keindahan alam, bercengkerama dengan keluarga dalam suasana wisata yang rilex.

Seorang sahabat Nabi Muhammas SAW, Amr bin Ash, Gubernur Mesir di zaman Khalifah Umar bin Khattab pernah berpidato dihadapan rakyat Mesir  yang di antara isinya menyarankan kepada mereka untuk keluar rumah di awal musim Semi (Sham el Nasim), yaitu di akhir musim dingin dan permulaan musim Semi. Hal itu diriwayatkan oleh Ibn Abd el Hakam dalam bukunya “Futuh Masr wa el-Maghrib”, juga oleh Ibnu Zulaq dalam “Fadhail el Masr wa Akhbarha” dan oleh Dar Quthni dalam “El Mu`talaf wa el Mukhtalaf”.

Dar el-Ifta juga mengatakan bahwa Sham el Nasim sendiri adalah perayaan menyambut masuknya Musim Semi, sementara merayakan musim Semi adalah budaya manusia dan masyarakat yang tidak berhubungan langsung dengan ritual keagamaan, agama apapun. Budaya ini sudah dikenal sejak Mesir Kuno dengan nama yang berbeda-beda tapi makna sama. Masyarakat Mesir Kuno menyebutnya dengan “Eid Syumus” atau “Ba`ts el-Hayah”, pada masa Babilonia disebut dengan “eid dzabh el-kharouf” (menyembelih domba), orang Yahudi menamainya dengan “eid el-Faskh” atau “el-Khuruj”, pada masa Romania dinamai dengan “eid el-Qamar”.

Ada yang penting untuk saya sampaikan dalam pernyataan Dar el-Ifta el-Masriyah terkait masalah ini, antara lain disebutkan bahwa kebiasaan umat Islam dalam berdakwah, tidak menolak adat istiadat masyarkat di sebuah Negara atau kaum yang didatanginya,  selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariah Islam. Umat Islam justru berusaha menyesuaikan dan menyatu dengan masyarakat penduduk asli Negara atau kaum tersebut antara lain dengan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam secara perlahan dan memasukkan nilai-nilai Islam di dalam adat istiadat tersebut. Persis yang dilakukan oleh para wali songo dan ulama yang berdakwah membawa masuk Islam ke Indonesia.

Suatu saat pada zaman Umat Kristen Koptik berkuasa di Mesir, perayaan Sham el Nasim ini bertepatan dengan masa puasa bagi mereka, maka perayaan Sham el Nasim diubah dan disesuaikan dengan habisnya masa berpusasa umat Koptik, hal itu menyelipkan pesan penting dan secara singkat dapat dikatakan bahwa even ini adalah even social agar seluruh rakyat Mesir dapat ikut merayakan dengan jiwa kebangsaan, bangsa Mesir.

Ini semua mengandung pesan kemanusiaan yang sangat tinggi dalam pengalaman koekosistensi antar pemeluk agama dan menegaskan kebersamaan sosial yang berdampak pada penguatan tali persaudaraan dalam satu masyarakat. Tentu saja hal ini tidak bertentangan dengan syariah, bahkan merupakan sebuah terjemah dari peradaban Islam yang tinggi dengan nilai-nilai mulianya antara lain nilai toleransi.

Adapun ada yang mengatakan bahwa Sham el Nasim memiliki asal-usul yang bertentangan dengan Islam, menurut Dar el-Ifta, itu adalah pernyataan yang tidak benar dan tidak pernah ada. Even ini tidak ada hubungannya dengan ritual aqidah keagamaan, baik substansi perayaannya maupun pengejawantahannya dalam bentuk kegiatan serta sarana yang digunakan. Even ini murni, perayaan nasional menjelang masuknya musim Semi, dilakukan oleh seluruh kalangan masyarakat di Mesir yang berpotensi untuk meningkatkan persatuan sesama masyarakat dan menguatkan rasa kebangsaan mereka. Tentu saja selama yang dilakukan dalam perayaan tersebut tidak melampui batas-batas yang digariskan oleh norma-norma agama dan perilaku umum. Wallahu a`lam bissawab….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *