25 April, Mesir Peringati Hari Pembebasan Sinai

Hari ini, 25 April adalah hari Nasional bagi Mesir, seluruh instansi baik negeri maupun swasta libur memeringati Hari Pembebasan Sinai tahun 1982 dari penjajahan Israel. Sejak kekalahan Mesir pada perang Juni 1967, atau 50 tahun yang lalu, seluruh daratan gurun Sinai dikuasai oleh Israel.

Untuk merebut kembali Sinai, pada Juli 1967, Mesir kembali melawan Israel dan berusaha mengusirnya dari tanah air Mesir. Namun peperangan panjang yang berlangsung hingga Agustus 1970 (atau selama 3 tahun) yang kemudian dikenal dengan sebutan “harb istinzaf” ersebut tidak banyak membuahkan hasil. Israel tetap bergeming menduduki Sinai.

Ketika Wakil Presiden Anwar Sadat menggantikan Presiden Gamal Abdel Nasser, yang dia kerjakan pertama kali adalah upaya mengembalikan gurun Sinai yang dikuasai oleh Israel tersebut. Persiapan perangpun dilakukan dengan sangat rapi dan sangat dirahasiakan termasuk kepada rakyat dan prajurit Mesir. Berbeda dengan Pendahulunya, Jenderal Anwar Sadat jauh lebih detail menguasai sandi-sandi militer, perang spionasepun dimulai. Peran tokoh spionase legendaris Mesir, Ra`fat Haggan, yang berprofesi sebagai Pengusaha kaya dengan paspor Jerman tersebut sangat penting. Karena profesinya ia kemudian sangat dekat dengan tokoh-tokoh utama Israel seperti PM Golda Meir, Panglima Militer Moshe Dayan dan yang lain. Banyak informasi penting tentang militer Israel yang ia dapat dari sumber utama, bahkan tentang kekuatan tentara Israel di Sinaipun dia serap sempurna.

Anwar Sadat menyiapkan strategi perang cukup matang, hingga tiba saatnya menyerang pasukan Israel di Sinai pada tgl 6 Oktober 1973. Tentara Mesir berhasil mengalahkan tentara Israel yang bertahan di gurun Sinai Mesir, bahkan memukul mundur tentara Israel yang berlindung di balik benteng raksasa karya Berlief hingga sejauh 101 km dari terusan Suez ke tengah gurun Sinai. …. (Kalau cerita tentang perang Oktober 1973 apalagi menyinggung Ra`fat Haggan, saya jadi teringat Kiai Murtafi` Haris, yang sering cerita-cerita sambil ngesyai di kantin Buuts tercinta… 😀.

Kalau bukan karena dihadang AS dan PBB, banyak yang menduga bahwa tentara Mesir saat itu bisa merebut seluruh Palestina yang dikuasai oleh Israel.

Setelah kemenangan atas Israel yang fenomenal di bulan Oktober 1973, dilakukanlah perundingan-perundingan yang sangat berat antara 1974-1975, dengan tujuan Israel segera meninggalkan gurun Sinai Mesir. Kemudian dilanjutkan dengan perundingan Camp David dan penandatanganan perjanjian perdamaian antara Mesir-Israel tahun 1979.

Sejak saat itu, secara beransur tentara Israel meninggalkan Sinai hingga rombongan terakhir meninggalkan Sinai tanggal 25 April 1982, kecuali kota Taba yang masih dipersengketakan oleh Istael dengan alasan bahwa Taba adalah wilayahnya Israel. Dengan kegigihan diplomasi Mesir di dalam Pengadilan Internasional, pada 19 Maret 1989 diputuskan bahwa Taba adalah wilayah Mesir. Cerita lengkapnya seperti yang sudah saya tulis pada bulan Maret 2017 lalu.

Perang Istinzaf

Kalau baca koran dan mendengar berita radio dan TV di Mesir, kita sering mendengar kata-kata harb istinzaf, intishar Oktober dll. Sebuah istilah yang mungkin sebagian kita di Mesir ada yang menganggap sama dan melihatnya sebagai perjalanan sejarah yang biasa-biasa saja. Itu karena kita tidak ikut mengalaminya. Berbeda dengan para senior kita di Mesir yang dulu turut mengalami masa perang saat itu. Seperti misalnya KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpin Pondok Modern Gontor yang sesenggukan menangis ketika berpidato di depan Grand Sheikh Al-Azhar dan menceritakan sekelumit kisah masa perang di Mesir saat itu. Cerita perang di manapun pasti memilukan. Barang kali tidak jauh dengan penderitaan ketika Indonesia di jajah oleh belanda, di saat mereka menyerbu perkampungan lantas orang-orang kampung berlarian sembunyi sambil teriak, “Londo tekoooooo..”.

Istilah “perang istinzaf” (perang habis-habisan dan berkepanjangan) ini dilontarkan pertama kali oleh Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasir untuk menyebut peperangan antara Mesir-Israel di dua tepian terusan Suez (Israel berada di tepian terusan Suez yang berada di Sinai, masuk dalam benua Asia, dan Mesir di tepian Suez bagian Mesir, benua Afrika).

Perang ini berlangsung setelah Mesir dikalahkan oleh Israel pada perang enam hari mulaii 1 Juni 1967. Saat itu tentara Israel menyerang kota Port-Fuad, sebuah kota Mesir yang berada di gurun Sinai di seberang kota Port-Said. Terjadilah perang sangat sengit dan karena ketidaksiapan Mesir yang diserang secara tiba-tiba, maka Mesir kalah telak (di balik serangan tiba-tiba yang tidak disadari oleh Mesir ini tersimpan cerita panjang melibatkan kondisi politik dunia saat itu antara AS dan Uni Soviet).

Setelah perang tersebut, Israel tidak mengindahkan resolusi PBB no. 242 yang mengharuskan Israel meninggalkan tanah negara-negara Arab yang didudukinya. Sementara Sidang Liga Arab di Khartoum, Sudan, memberikan dukungan kepada Mesir untuk memertahankan tanah airnya, beberapa negara Arab mengirimkan bantuan senjata, demikian juga Uni-Soviet mempercepat proses kontrak pembelian senjata sehingga kekuatan militer Mesir saat itu meningkat 50% dari yang ada sebelumnya. Tentara Mesir yang bertugas di Yaman ditarik ke Mesir untuk memertahankan negaranya.

Setelah persiapan dirasa cukup, pada 1 Juli 1967, Mesir mulai menyerang tentara Israel yang bermarkaz di tepian terusan Suez. Serangan tersebut mengagetkan Israel yang merasa telah menang beberapa hari. Terjadilah perang sangat sengit dan berlangsung selama 3 tahun. Perang panjang inilah yang disebut oleh Gamal Abdel Nasser sebagai perang “istinzaf”, sementara org Israel menyebutnya dengan perang seribu hari (harb alfyoum).

Israel yang sudah siap dengan persenjataan modernnya melancarkan serangan udara dengan rudal-rudal dan pesawat tempur buatan Amerika ke arah pangkalan militer dan pemukiman sipil dengan tujuan menjatuhkan mental para pemimpin Mesir. Sementara Mesir bertahan dengan menggunakan anti rudal buatan Uni-Soviet. Secara terpisah, beberapa negara Arab yang sebagian tanahnya diduduki oleh Israel juga melakukan perlawanan seperti Yordania dan Suriah. Pada tanggal 7 Agustus 1970, atas kesepakatan Presiden Gamal Abdel Nasser dan Raja Hussein Yordania, diputuskan gencatan senjata. Namun, meski sudah tidak terjadi perang, perundingan tetap belum dapat dilakukan karena ulah Israel.

Tiga tahun kemudian, Mesir secara tiba-tiba dan dengan sangat rahasia, berhasil melumpuhkan benteng raksasa Israel di Sinai, yaitu benteng Berlief. Peperangan heroik ini sangat membanggakan, karena Israel yang pongah tersebut dapat dikalahkan oleh tentara Mesir dan dipukul mundur hingga meninggalkan seluruh dataran gurun Sinai.

Kepada Warga Mesir, Selamat memeringati Hari Pembebasan Sinai 25 April 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *