Selamat Merayakan Syam el Nasim

Hari ini Mesir merayakan Syam el Nasim, sebuah perayaan menyambut tibanya musim semi. Semua instansi negeri dan swasta libur, masyarakat pada umumnya merayakan hari bahagia ini di taman-taman, di pantai dan di ruang-ruang terbuka lainnya. Kebiasaan mereka pada hari Syam el Nasim ini antara lain mewarnai telur bak hiasan, makan bersama keluarga di tempat wisata, dengan ikan ringga dan ikan herring sebagai menu dominannya.

Tahun lalu, di Alexandria, sebuah kota pantai yang dikenal dengan bekas kerajaan Cleopatra, dikunjungi tidak kurang dari 2 juta masyarakat luar Alexandria. Selain memiliki pantai yang indah di sepanjang kota, Alexandria juga punya taman hijau nan luas “montazah” di sekeliling istana raja Farouk. Wajar jika di musim Syam el Nasim rakyat Mesir banyak yang memilih kota ini untuk merayakannya. Selain Alexandria, kota lain yang banyak dikunjungi adalah Damiyetta, Syarm El Sheikh, Horgada juga Ain Shukhnan yang obyek utamanya adalah pantai.

Merayakan masuknya musim semi adalah tradisi rakyat Mesir sejak zaman raja-raja Fir’aun ribuan tahun yang lalu. Tetapi Istilah Syam el Nasim (Syammun Nasim) dikenal belakangan.

Setidaknya ada dua pengertian dari istilah Syam el Nasim yang dikenal oleh warga Mesir. Pertama ada yang melihat bahwa Syam el Nasim berasal dari bahasa Arab yang artinya menghirup udara yang segar. Kedua ada yang mengisahkan bahwa Kata Syam el Nasim berasal dari bhs Mesir Koptik, dia bukan berarti “menghirup udara yg segar” tetapi arti kata “Syam el Nasim” adalah “taman pepohonan”, menurut pendapat ini kata Syam el Nasim berasal dari dua kata: “Syaum” berarti taman dan “naisium” berarti pepohonan. Kata “In” di antara keduanya seperti of dlm bhs Inggris, jadi bunyi aslinya “Syaum in Naisium” berarti taman pepohonan, lalu perkembangan bunyi menjadikan kata Syaum in Naisium menjadi Syam el Nasim (Syammun nasim).

Syam el Nasim selalu dirayakan di hari Senin dan jatuhnya di antara tgl 4 April – 8 Mei. Kenapa?

Ketika agama Nasrani berkembang di Mesir dan menjadi agama mayoritas pada abad ke-4 Masehi, mereka kesulitan untuk melaksanakan perayaan Syam el Nasim, karena hari bahagia ini selalu bertepatan dg puasa besar. Perayaan Syam el Nasim yang biasanya ditandai dg pesta raya, senang-senang dan makan-makan menyulitkan kaum Nasrani yang saat itu berpuasa dan harus fokus beribadah serta tdk boleh makan-makanan hewani. Maka saat itu disepakati untuk mengundurkan hari Syam el Nasim menjadi setelah masa puasa, yaitu sehari setelah “eid elqiyamah” (Hari Paskah), sementara hari Paskah Kristen Koptik selalu jatuh pada hari Minggu, dan Syam el Nasim jatuh hari berikutnya, hari senin. Untuk menentukan “eid el qiyamah” (Hari Paskah) mereka menggunakan kalender tersendiri, yaitu penghitungan epacte, yg artinya: Usia rembulan di awal bulan Tut Koptik setiap tahun. Metode hitungan ini dibuat pada abad ke-3 Masehi oleh Petlemus Al Farmawy, seorang astronom berasal dari kota Farma (antara Port Said – Arisy sekarang). Yaitu di masa Paus Demitrius al kiram patriach ke-12 antara tahun 189-232 M.Hitungan kalender ini sisepakati oleh seluruh gereja nasrani di seluruh dunia sampai 1528 M.

Syam el Nasim bagi Pemeluk agama-agama Samawi

Umat Yahudi meniru adat Mesir Kuno dalam perayaan ini dan menjadikannya sebagai hari raya Fasekh. Menurut pengakuan mereka, ketika mereka meninggalkan Mesir -zaman Nabi Musa- mereka memilih waktunya bertepatan dengan perayaan Syam el Nasim. Alasan mereka agar rakyat Mesir tidak mencurigai kepergian mereka yang banyak membawa barang-barang berharga, seperti emas permata karena rakyat Mesir sedang sibuk merayakan Syam el Nasim.

Kaum Yahudi menjadikan hari itu sebagai tahun baru Ibrani, dan menetapkannya sebagai hari “Fasekh” dari bhs Ibrani yang artinya “Keluar atau menyeberang,” sebagai tanda keselamatan mereka menuju kehidupan baru.

Ketika Kristen masuk Mesir, perayaan Hari Paskah (eid qiyamah) bersamaan dengan perayaan Sammu el Nasim, eid el qiyamah jatuh pada hari Minggu dan sehari setelahnya yaitu hari senin adalah Syam el Nasim, jatuh pada bulan Permuda Tahun Koptik.

Ketika Islam masuk Mesir, perayaan Syam el Nasim tetap dijalankan oleh masyarakat Muslim Mesir, budaya keluar rumah dan menikmati udara segar di taman-taman dan di tepian sungai Nil tetap berlangsung setiap Syam el Nasim.

Seorang Orientalist dari Inggris “Edward William Lien” yang berkunjung ke Cairo pada 1834M, menuliskan catatan tentang masyarakat Mesir yang merayakan Syam el Nasim, “mereka keluar rumah pagi-pagi sekali menuju sawah-sawah di perkampungan sekitar kota mereka, ada yang berjalan kaki dan ada yang berkendara, berjalan-jalan di pinggir sungai Nil menuju arah utara (hilir), menghirup udara segera yang mereka yakini bahwa menghirup udara di hari Syam el Nasim memiliki pengaruh yang sangat baik, mereka makan-makan bersama keluarga di perkampungan.”

Hari ini saya menulis catatan, “masyarakat Mesir dalam merayakan Syam el Nasim di abad 21 ini sedikit berbeda dengan zaman abad 19 yang lalu, kebanyakan mereka tidak lagi menghirup udara segar di sawah-sawah tepian sungai Nil, tetapi mereka di pantai-pantai, taman-taman kota, berbagai sporting club (Nadi el rayadhie) dan mall-mall”

Kepada Sahabat-sahabat yang sedang berada di Mesir, Selamat merayakan Syam el Nasim 🙏

Ikan Ringga, Konsumsi Khas di hari Syam el Nasim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *