Setelah 40 Tahun Meninggal, Suara “Andalib” Masih Digandrungi Bangsa Arab

Ternyata Umi Kulsum bukanlah satu-satunya penyanyi Mesir yang paling digemari oleh masyarakat Mesir dan bangsa Arab. Nama Umi Kulsum (1898 –1975) memang mendunia dan dikagumi sampai ke pelosok tanah air Indonesia. Namun pada masanya, di Mesir ada beberapa penyanyi tenar lainnya, sebut saja di antaranya Mohammad Abdel Wahhab (1902-1991), Farid Athrash (1910-1974) dan Abdul Halim Hafedz (1929-1977). Nama yang disebut terakhir, pada hari-hari ini sedang menghiasi berbagai media cetak dan elektronik di Mesir, kenapa? Karena pada tanggal 30 Maret 2017 adalah ulang tahun ke-40 wafatnya Penyenyanyi legendaris tersebut.

Abdel Halim Hafez bernama asli Abdel Halim Ali Shabana, di Mesir dan dunia Arab dia lebih dikenal sebagai “Andalib” atau burung bulbul, dinamai bulbul karena burung ini punya suara sangat merdu, saking merdunya nama burung ini diabadikan dalam sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Raja Dangdut Kita Bang Haji Rhoma Irama. Demikian juga dengan Abdel Halim Hafez, karena suaranya yang mampu menyihir siapa saja yang mendengar lagunya, orang Arab menyebutnya dengan nama “Andalib”, akhirnya nama inilah yang lebih terkenal. Bahkan kalau kita buka google image dengan kunci “Andalib” pakai huruf Arab tentunya, maka yang keluar mayoritas adalah photo Abdel Halim Hafez, justru burung bulbulnya hanya sedikit sekali yang muncul.

Berbicara tentang Andalib, saya teringat teman dekat yang pernah sama-sama di Cairo dulu. Setidaknya ada dua orang, yaitu Dr. Abdul –tanpa Halim– Hafez (yang waktu di Cairo dulu lebih dikenal dengan Kindy), sarjana Bahasa Arab ini banyak menghafal syair-syair Arab, sehingga kalau mendengar lagu Arab sangat menikmati. Yang kedua Ustadz Salim Rusydi, ahli filsafat yang banyak merenungkan berbagai kisah di balik lagu atau juga alur cerita dalam film-film Arab. Ya Ayyam zamaann… juga tentunya teman-teman lain yang sering nongkrong bareng J

Abdel Halim Hafez usianya tidak panjang, ia meninggal di London dalam usia 47 tahun, tetapi di dalam usia yang pendek tersebut banyak kenangan yang disimpan oleh rakyat Mesir dan bangsa Arab umumnya. Bagaikan bunga, baunya sangat wangi tapi usianya pendek (‘athr gamil, umr qasir). Seorang kolumnis, Farouk Quwaidah menulis sebuah kenangan tentang Andalib, “aku masih ingat beberapa konser yang mempertemukan aku dengan Abdel Halim Hafez, saat itu aku masih kanak-kanak menginjak remaja, sementara ketenaran dia telah memenuhi langit bumi ini. Meski begitu kami bertemu dalam suasana terindah yang menyatukan manusia, yaitu “perasaan” pertemuan dalam perasaan ini melampaui batas-batas waktu, usia juga jarak. Aku adalah satu dari jutaan manusia yang menyukai suara Andalib dan membiarkan hati-hati kami yang suci nan merdeka untuk terbang mengembara bersama suaranya ke tempat yang paling jauh sekalipun…”.

Andalib mulai bernyanyi pada usia tigapuluhan, pada usia empatpuluhan sudah mulai sakit-sakitan, bolak-balik dokter, rumah sakit dan penderitaan. Selain menyanyi, Andalib juga bermain film, dia membintangi 14 film dalam rentang waktu 12 tahun. Film-film yang dihiasi oleh lagu-lagunya sangat menyentuh penonton, maka dia juga mendapatkan julukan “Sang Suara Romantis”. Karena ketenarannya itulah, banyak yang mengatakan, kalau bukan karena Andalib, syair-syair Nizar Qabbani (1923-1998) yang di juluki “sang penyair cinta dan revolusi” itu tidak akan masuk ke rumah-rumah seluruh warga Arab.

Berbeda dengan Umi Kulsum atau seniman besar lainnya yang peninggalannya disimpan di musium dan dikelola oleh pemerintah, Abdel Halim Hafez sebelum meninggal berwasiat kepada keluarganya agar rumahya yang terletak di kawasan Zamalek itu dibiarkan tetap terbuka bagi para penggemarnya seperti ketika dirinya masih hidup. Selain itu agar barang-barang miliknya juga dibiarkan di dalam rumah. Peninggalan itu antara lain berupa partitur lagu yang kertasnya sudah usang, lemari pakaian yang berisi kupulan pakaian dan jas yang dipakai di film dan konser, handuk yang ada tulisan AH, yaitu singkatan nama dia, juga bantal yang digunakan selama sakit. Dinding rumah Andalib penuh dengan coretan ungkapan rasa cinta dari para penggemarnya. Dua orang keponakannya dengan sabar mengurus rumah dan peninggalan antik milik Andalib, mereka juga dengan ramah menyambut para penggemarnya untuk melihat-lihat peninggalan Andalib. Ini yang membedakan dengan musium peninggalan seniman lain yang dijaga oleh karyawan pemerintah. Keluarga Andalib lebih luwes dalam menyambut para penggemar sehingga ada getaran perasaan yang tersambung dengan almarhum.

Peringatan 40 tahun meninggalnya Abdel Halim Hafez juga digelar oleh Cairo Opera House sebagai penghargaan seniman besar yang namanya hingga sekarang masih terus dikenang. Meskipun setiap event lagu-lagu dia diputar, namun suara Andalib tetap hadir di hati warga Arab dari generasi ke generasi berikutnya, khususnya lagu-lagu romantis yang mengangkat tema cinta dan perpisahan, suara itu tetap menyentuh hati setiap generasi, meskipun irama kehidupan saat ini selalu berubah.

 

Penyanyi yang membujang hingga akhir hayatnya ini pernah menjadi impian setiap gadis yang mengenalnya. Namun satu-satunya gadis yang ia cintai, bahkan dinyanyikan dalam lagunya yang berjudul “ fi youm, fi syahr, fi sanah” (dalam sehari, dalam sebulan, dalam setahun) ternyata dipanggil Tuhan sebelum menikah. Andalib baru sembuh dari rasa sedihnya ketika menemukan cinta keduanya dengan seorang bintang cantik bernama Suad Hosny. Ujung dari kisah cintanya dengan Suad tak sempat terkuak secara gamblang. Tapi hari-hari ini, isu tentang perkawinan mereka berdua mencuat di media massa, bahkan pihak yang menyatakan bahwa mereka pernah menikah melampirkan copy surat nikah di media. Namun keluarga Andalib membantah bahwa perkawinan itu pernah terjadi. Banyak pihak berharap, isu tersebut tidak dilanjutkan, biarkan itu menjadi rahasia mereka berdua yang telah sama-sama menghadap Tuhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *